Menyongsong Digitalisasi Aksara Pegon – Menyusul beberapa aksara nusantara, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) segera lakukan digitalisasi aksara Pegon demi tak punah digilas oleh perkembangan dunia digital selama ini.

Aksara Pegon adalah huruf Arab yang pakai kaidah-kaidah tertentu untuk menuliskan bahasa tidak cuman Arab. Selama ini, aksara Pegon digunakan dalam penulisan naskah-naskah kuno di kalangan pesantren dalam bahasa Jawa. Penggunaan aksara Pegon termasuk tersebar di bermacam tempat di nusantara sampai semenanjung Melayu.

Gagasan ini tercetus dalam sebuah pertemuan pada tim PANDI dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlash, Mulyorejo, Dalegan, Kec Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur.

Hadir dalam pertemuan itu Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo, Heru Nugroho, dan dua staf PANDI Chika Hayuningtyas dan Alicia Nabilla Wardhani. Sementara pihak Pondok Pesantren diwakili oleh ketuanya, K.H. Alfin Sunhaji, M.Pd dan pegiat aksara nusantara, Diaz Nawaksara.

Yudho mengatakan, inspirasi ini merupakan anggota berasal dari program “Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara” yang selama ini sudah dikerjakan bersama lakukan digitalisasi aksara Jawa, Bali, Sunda, Rejang, Batak, dan Bugis.

PANDI lakukan hal ini untuk melestarikan bahasa-bahasa tempat sebagai wujud nasionalisme yang dituangkan dalam wujud usaha digitalisasi aksara nusantara warisan leluhur, agar generasi muda sanggup mengenal dan tahu aksara-aksara asli tempat terdahulu yang kini kian terkikis zaman.

Digitalisasi ini nantinya dapat memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Pegon gara-gara sanggup diakses dan tersedia di perangkat mobile dan merupakan wujud pelestarian budaya lokal agar sanggup selalu hidup dan ikuti zaman.

Menurut Yudho, Indonesia adalah negara yang punyai kekayaan budaya yang amat luar biasa. Lebih berasal dari 700 (tujuh ratus) bahasa tempat yang tersebar di semua pelosok negeri, yang masing-masing punyai aksaranya sendiri.

Gagasan digitalisasi ini sengaja di awali berasal dari bawah agar menghidupkan stimulus punyai berasal dari komunitas pendukung aksara yang bersangkutan.Pasang Bola Pondok Pesantren Al Ikhlas yang berlokasi persis di pantai utara Kabupaten Gresik ini dibangun tahun 2007.

Iabukan merupakan pesantren warisan, melainkan pertama kali didirikan oleh K.H. Alfin Sunhaji (52 tahun) yang merupakan warga asli desa Mukyorejo, Dalegan.

KH. Alfin tidak cuman memimpin pondok pesantren termasuk dikenal sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Cabang Gresik, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Dalegan dan termasuk memimpin Orkes Melayu. Kompleks pesantren tanpa dinding pembatas ini menyatu bersama rumah-rumah warga di desa pantai ini.

“Ibarat gayung bersambut, kami membantu penuh inspirasi ini (digitalisasi aksara) gara-gara sanggup melestarikan budaya pesantren di masa digitalisasi, yang penting arahnya kemana (positif) kami mengikuti, yang penting jangan kemana-mana,” ucap K,H Alfin Sunhaji.

Makna lafal Pegon itu sendiri berasal berasal dari lafal Jawa pego, yang berarti menyimpang, gara-gara sebenarnya menyimpang berasal dari literatur Arab dan Jawa. Oleh gara-gara itu, dalam percakapan soal inspirasi selanjutnya mengemuka kasus bahwa aksara Pegon, belum tersedia standarisasi.

Ada sejumlah perbedaan pada pengguna di komunitas tertentu bersama pengguna di komunitas lainnya dalam menerapkan aksara Pegon cocok bersama yang dimaksud. Namun, mereka sama-sama tahu segi keterbacaan aksara Pegon yang digunakan gara-gara yang penting mereka sanggup tahu apa yang bertujuan dalam bacaan beraksara Pegon tersebut.